jalur menuju karir

Jika Anda ditanya: “Karir Anda sebenarnya apa?” apakah akan sama jawabannya dengan ketika Anda ditanya “Apa sih pekerjaan Anda?” ataukah Anda bakal menjawabnya dg “Profesisaya adalah …”

Lah, mengapa sih kok dibikin ruwet kayak gitu? Kenapa pake merepotkan diri dengan banyak istilah? Kenapa ndak cukup gunakan saja istilah Karir, dengan anggapan bahwa itu sama dengan pekerjaan dan juga profesi.

Itu nanti sama saja klo ada orang asing yang ingin menyebut gabah, beras, bubur, dan nasi dalam satu istilah saja: nasi. Padahal kita tahu masing2 punya karakteristik dan fungsi yang berbeda. Tingkat akurasi kita dalam memaknai “nasi” akan berpengaruh pada kemampuan kita untuk melakukan tindakan secara bersesuaian dengan maknanya masing2. Klo sudah tau bahwa itu beras, maka ya jangan langsung dimakan, dan jangan juga menyuguhkan makanan dalam bentuk masih berupa beras. Jika kemudian semua disamakan sebagai “nasi”, bukankah salah kaprah bakal terjadi.

Nah, sama juga. Manakala kita paham beda antara profesi, karir dan pekerjaan, maka kita bisa tahu bagaimanakah status kita sekarang dan apa-apa yang bisa kita sikapi terkait dengan itu.

Pekerjaan (Job) adalah aktivitas rutin yang dijalani untuk mendapatkan penghasilan. Training dan pendidikan khusus tidaklah selalu diperlukan untuk ini. Misal saja: seniman advertising, MLM agent, marketing representative, pedagang, semua yang tidak membutuhkan gelar khusus merupakan pekerjaan. Dan oleh karenanya, itu semua bukanlah profesi.

Profesi (Profession) adalah okupasi* yang memerlukan pelatihan, pendidikan atau prasyarat khusus untuknya. Misalkan saja: bidang hukum, kedokteran, arsitek, guru, dan sebagainya. Sehingga kemudian muncullah istilah professional untuk para penjalan profesi ini, misal saja dokter, pengacara, insinyur bangunan, dan sebagainya.

Sehingga seseorang baru sah menyebut dirinya berprofesi sebagai pembalap, pelukis, penyanyi, pembawa acara dsb manakala dalam menjalani profesi itu dia harus mengikuti pendidikan dan pelatihan tertentu serta harus memenuhi persyaratan tertentu. Selain itu, maka statusnya ya sekedar pekerjaan.

*= Okupasi atau jenis pekerjaan (Occupation: belum ada terjemahan pas dalam bahasa Indonesia) adalah kategori besar dari pekerjaan yang miliki karakteristik serupa. Misal saja: pengajar, insinyur, medis, dan sebagainya.

Sebagai ilustrasi juga, saya akan cuplik dialog dari film 300! yang luar biasa keren. Bagi Anda yang belum melihat filmnya, ya… ya sebaiknya Anda lihat. Filmnya bagus lho! :mrgreen:

300! Profesi dan Pekerjaan

Leonidas: “You, what is your profession?“
Arcadian Soldier: “I’m a potter, sir.“
Leonidas: “And you, Arcadian, what is your profession?“
Arcadian Soldier: “I’m a sculptor.“
Leonidas: “And you?“
Arcadian Soldier: “I’m a blacksmith.“
Leonidas: [menoleh ke arah pasukan Spartans] “Spartans! What is your profession?“
Spartans: “Harooh! Harooh! Harooh!” (artinya mereka tu sejak lahir memang menempuh jalur karir sebagai tentara)

Meskipun tentara Arcadian maju berperang, tapi sejak awal itu bukanlah profesi mereka. Mereka tidak menjalani seleksi dan pelatihan khusus sebagaimana para Spartans. Sementara bagi Spartans, menjadi tentara bukan hanya sekedar profesi, melainkan juga karir.

Sementara itu, karir (career) adalah perjalanan panjang dan berjenjang tentang pembentukan dan eksploitasi optimal dari pengetahuan, keterampilan dan pengalaman. Di sini ada upaya sadar untuk meningkatkan kompetensi profesional yang terkait erat dengan tangga pencapaian profesional dan tahapan perkembangan sebuah pekerjaan atau profesi tertentu, dari yang novice menjadi expert. Karir membutuhkan perencanaan di masa depan, cakupannya jauh lebih luas dan durasinya juga lebih panjang ketimbang pekerjaan. Dan yang paling penting, karir ini -harusnya- adalah panggilan jiwa, dan dia secara otomatis harus didasarkan atas pilihan diri sendiri, bukannya atas paksaan atau titipan dari orang lain.

Karir bisa dibentuk baik dari pekerjaan maupun dari profesi.

tangga karir
Manakala tak ada tangga yang bisa didaki, maka itu bukanlah karir.

Dengan demikian, maka kita pun akhirnya bisa mengatakan seperti ini:

  • Amir adalah seseorang yang profesinya dokter, memiliki karir di konsultasi bisnis, dan saat ini memiliki pekerjaan dengan -misal saja- Bread Talk.

Perkara apakah yang dimiliki itu adalah sebuah pekerjaan profesi atakah non-profesi bukanlah masalah. Tidaklah harus menjalani pendidikan profesi jika maksudnya untuk bisa dapatkan imbalan finansial yang lumayan. Lihat saja para entrepreneur, banyak mereka yang sukses tanpa ada gelar akademis. Namun janganlah kita kemudian membandingkan keduanya demi untuk membuat klaim bahwa entrepreneur itu lebih baik ketimbang para pengemban profesi, atau sebaliknya.

Yang jadi masalah itu adalah ketika seseorang

  1. Menjalani sebuah pekerjaan atau profesi yang itu ternyata gagal dia rancang sebagai sebuah karir, atau
  2. Dia tidak sadar bahwa dia belum menjadikannya sebagai sebuah karir atau
  3. Dia tidak berani berkarir di luar bidang profesi atau pekerjaannya itu

Begitu lulus dari SMA, SMK atau perguruan tinggi, kita memang tidak dengan seketika mendapatkan pengetahuan tentang karir semacam apa yang hendak kita bangun. Kebanyakan masih berfokus pada sekedar mendapatkan kerja. Ya tidak mengapa, ini wajar kok. Ya memang nasib deh, pendidikan kita sekedar mengajarkan knowledge -dan semoga juga keterampilan- keprofesian, namun belum mengajari kita bagaimana cara membangun karir.

Bagaimana halnya jika di awal usia 20-an seseorang sudah menetapkan dia ingin berkarir sebagai apa? Maka pertanyaan saya adalah, setelah sekian tahun dia menjalani pekerjaan terkait karir itu, apakah itu lantas benar2 merupakan panggilan jiwa atau batinnya. Apakah dia merasa terpuaskan oleh karirnya itu? Apakah dia ingin membangun legenda pribadinya atas dasar karir itu?

Nah, manakala seseorang sudah paham tentang makna karir, profesi dan pekerjaan, dia mungkin jadi merasa tak nyaman manakala ditanya “Karirmu sebenarnya apa, sih?” karena dia ternyata masih menganggap bahwa pekerjaan atau profesinya yang dijalani ternyata bukanlah pilihan pribadinya, dan juga bukan pula didasarkan atas perihal yang dia anggap penting atau berarti secara pribadi. Atau jauh di dalam hati dia merasa bahwa karirnya ternyata ada di tempat yang lain.

About Wellcome to iqbalsukses

Terlahir ke dunia yang fana pada hari selasa,,tepatnya pada saat sang fajar menyingsing.. Tumbuh dalam keluarga yang sederhana dan religius.. Sekarang menempuh hidup, mencoba menjadi sosok pribadi yang berguna bagi orang lain, terutama orang tua.. Salam Kemenangan.. Pencari kebahagiaan dunia & akhirat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s