Menemukan Inti/Esensi Gagasan

“0.8 percent of the human race is capable of writing something that is instantly understandable.”, begitu kata H.L. Mencken. Sedemikian sedikitnya orang yang mampu mengungkapkan gagasan yang langsung bisa dipahami. Mengungkapkan gagasan dalam bentuk yang bisa dipahami memang tak mudah. Apa yang sering kita lihat atau alami adalah pengungkapan kata-kata miskin makna dan kabur esensi utama.

Dari sekian cara untuk membuat pesan dimengerti, salah satu yang terpenting adalah ini: Sederhanakan! Bukan menyederhanakan dalam artian memilih untuk banyak diam atau membuat tulisan singkat, atau bahkan kata singkatan. Bukan juga dengan memperpendek omongan demi mencapai kesederhanaan pesan. Apa yang dimaksud dengan menyederhanakan di sini adalah menemukan core, essence, inti dari gagasan.

Menemukan inti di sini artinya membongkar sebuah gagasan menjadi bagian-bagian kecil yang terpenting. Untuk sampai pada inti, kita harus menyortir unsur-unsur yang berlebihan dan menyimpang. Tapi itu masih merupakan bagian yang mudahnya. Bagian sulitnya adalah menyortir gagasan-gagasan yang mungkin memang penting tapi bukanlah yang terpenting. Ini pada gilirannya akan sangat penting dalam menjalani peran sebagai pimpinan atau pemberi arahan.

Sebagai pimpinan, bisa saja kita mengalokasikan sekian banyak waktu untuk membuat daftar perintah atau arahan yang sedemikian spesifik. Tapi apa yang lebih efisien dan lantas efektif adalah dengan membuat para bawahan tahu dan paham maksud dari apa yang hendak dilakukannya dan esensi tujuan yang hendak dicapai. Itu akan membuat dari mereka bisa bermunculan solusi-solusi tepat ketika di lapangan nanti. Dan seringkali para bawahan memang merindukan kata-kata seperti ini:

  • Pokoknya ini lho yang harus terjadi
  • Pokoknya maksudnya nanti seperti ini lho
  • Klo bingung, pokoknya intinya begini

Dan ini hanya bisa dilakukan manakala sejak awal kita sudah bisa menemukan inti dari sebuah aktivitas dan gagasan.

Menemukan inti adalah menyisihkan banyak gagasan hebat agar gagasan yang terpenting bisa betul-betul bersinar. Bagaimana seorang designer bisa tahu bahwa dia telah mencapai kesempurnaan atas karyanya? Bukan ketika sudah tidak ada lagi yang tersisa untuk ditambahkan, melainkan ketika tidak ada lagi yang tersisa untuk diambil atau dihilangkan.

Menemukan Inti/Esensi Gagasan

Maka jika misal Anda hendak mengajukan argumentasi -khususnya secara lesan-, buanglah apa-apa yang tak perlu. Jangan habiskan energi untuk mengemukakan belasan macam argumentasi. Sekalipun tiap butirnya mungkinn baik, tapi lawan bicara Anda mungkin tak kan bisa mengingat semuanya. Maka buatlah prioritas, buatlah prioritas gagasan tanpa belas kasihan. Perkuat beberapa saja dari argumentasi Anda, karena tantangan Anda sebenarnya adalah menemukan esensi dari sebuah gagasan dan mengulangnya sedemikian rupa hingga itu melekat baik. Upaya ini akan berbayar ketika kita melihat sendiri betapa murid kita, rekan kerja, keluarga, atau teman bisa paham betul apa yang kita maksudkan, bisa mengingatnya dan terpengaruh oleh gagasan kita. Bukankah itu yang sebenarnya diinginkan?

 

About Wellcome to iqbalsukses

Terlahir ke dunia yang fana pada hari selasa,,tepatnya pada saat sang fajar menyingsing.. Tumbuh dalam keluarga yang sederhana dan religius.. Sekarang menempuh hidup, mencoba menjadi sosok pribadi yang berguna bagi orang lain, terutama orang tua.. Salam Kemenangan.. Pencari kebahagiaan dunia & akhirat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s