gak enaknya berbisnis

Tulisan motivasional tentang berbisnis memang bagus dan perlu. Ada banyak hal bagus yang dialami manakala seseorang berhenti dari model bekerja dari jam 9 pagi sampai jam 5 sore. Ada uang yang bisa didapet dan juga ada kebahagiaan di sana. Saya suka membaca tulisan semacam itu karena memang bisa membuat kita jadi lebih ngerti dan lebih berani mengambil risiko. Tapi saya nggak suka manakala apa-apa yang disampaikan melulu perkara hal-hal positif dan tidak beri tahukan pada pembaca terkait masalah-masalah yang potensial menghadang.

Berbisnis sendiri memang bisa jadi hal terbaik yang pernah terjadi dalam hidup seseorang, tapi bisa jadi juga itu malah menghancurkan hidup seseorang.

Berikut adalah hal-hal yang Anda belum diberi tahu:

1. Perlu ngeluarkan banyak uang, bukannya malah ngedapetin

Salah satu alasan terbaik untuk mulai berbisnis sendiri: menghasilkan banyak uang. Atau setidaknya begitulah rencananya. Tapi ya tetap saja, SETIAP bisnis pastilah butuh modal. Anda tak bisa kaya dalam hitungan hari. Anda bisa jadi harus keluarkan uang pribadi selama beberapa bulan (atau malah tahun) untuk membangun dan membuat bisnis sekedar bisa berdiri. Membangun bisnis itu seperti melakukan renovasi rumah, bisa butuh biaya dua kali lebih banyak untuknya, atau lebih banyak dari apa yang sudah Anda proyeksikan. Karenanya, selama itu Anda tak bisa mendapatkan penghasilan yang patut mengingat bisnis Anda butuh seluruh suplai finansial dari sumber manapun yang Anda bisa dapatkan.

2. Anda hanya bekerja untuk diri sendiri

Salah satu alasan mengapa banyak karyawan keluar dari kerja kantoran adalah karena udah bosen kerja ama atasan yang menjengkelkan (atau sekedar males manakala harus nurut mulu ama orang-orang yang berpangkat lebih tinggi). Nah, memang sih secara posisi Anda bisa jadi bos di perusahaan sendiri. Itu artinya tidak ada lagi yang membenarkan Anda manakala Anda lakukan kesalahan. Itu artinya Anda harus bisa melihat sendiri apakah tindakan dan langkah Anda sudah benar atau salah, dan tentu harapannya untuk tidak mengulang kesalahan yang dilakukan oleh orang lain terhadap diri Anda.

Menjadi bos atas diri sendiri memang bisa dianggap sebuah karunia, tapi bisa juga malah menjadi kutukan. Anda harus bisa cukup dewasa dalam menghadapi semua masalah. Anda harus bisa belajar menjadi manajer yang bagus mengingat sudah tak ada lagi orang yang ngopyak-ngopyak, nagih kerjaan, dan juga berikan arahan langsung. Tak ada orang yang bisa mengomentari terkait apakah hasil pekerjaan Anda sudah bener atau bagus atau belum, tak ada yang benar-benar bisa memantau perkembangan kinerja Anda. Padahal Ada masih harus ngurusin ‘sendiri’ segala urusan tetek bengek misal administrasi, pajak dan segala macemnya.

3. Anda harus membuat jadwal kerja dan tenggat sendiri

Manakala masih kerja di kantor, mbayangin bisa mbikin jadwal kerja dan tenggat sendiri rasanya kok ya enak gitu. Tapi manakala sudah menjalani, ternyata hal itu tidaklah mudah. Kita di sini harus benar-benar pikirkan bagaimana bisa ngatur semua project yang ada, bagaimana mbikin tenggat yang bagus, bagaimana semua itu bisa “cocok” dengan hitung-hitungan yang ada, dan sebagainya.

Arahan ekstrimnya biasanya kepada dua hal: entah Anda akhirnya membuat jadwal yang kendor dan jadi kurang produktif, atau jadi kerja berlebih karena coba capai terlalu banyak hal dalam waktu yang teramat sedikit; yang juga berakhir pada kelelahan dan hilangnya produktivitas.

4. Anda bisa dapatkan waktu luang seenak keinginan

Banyak yang nggak suka dengan model kerja 9 sampe 5. Setelah bikin perusahaan sendiri, kita serasa sudah bisa mengatur jam sendiri. Tapi yang terjadi biasanya seperti ini: Anda harus bekerja sepanjang hari karena memang itu yang harus dilakukan di awal-awal pendirian bisnis. Bila selama kerja di kantoran Anda semisal biasa mengambil waktu break untuk minum kopi selama 30 menit, maka manakala sudah punya bisnis sendiri, Anda harus ngopi sambil kerja. Bila kemudian kebanyakan waktu dihabiskan untuk urusan-urusan pribadi, bisnis Anda bisa mati. Sementara kalau bekerja terlalu banyak, hubungan sosial dan keluarga Anda bisa terpengaruh. Tak mudah lho untuk bisa mencapai keseimbangan yang baik.

5. Kerja di rumah, rek. Kurang enak gimana, coba.

Asyik kan… bangun tidur dan kemudian ‘langsung’ kerja, habis gitu sarapan, dan balik lagi kerja… Tak perlu lagi ngejar-ngejar waktu supaya tak terkena macet di jalan, apalagi sampai harus berlama-lama di kendaraan umum. Kerja di rumah memang asyik. Ini artinya sebagian besar waktu Anda akan dihabiskan sendirian. Anda harus buat aturan dasar dengan keluarga; mereka harus bisa pahami bahwa pekerjaan di rumah itu urusan serius, dan bahwa Anda butuh ketenangan dan ‘ruang’. Klo memang pekerjaan Anda begitu menyita waktu, bisa jadi Anda akan sangat lama mendekam di rumah. Gimana, keren kan?

. . .

Bukannya saya kemudian mencoba menyurutkan semangat rekan-rekan pembaca. Berbisnis sendiri bagaimanapun adalah kenikmatan, jika memang sejak awal itu adalah bersumber apa yang Anda suka. Yang namanya gagal dan salah biasanya pasti datang. Oleh karenanya, sejak awal harus punya pemahaman yang riil tentang berbisnis sendiri dan lalu punya kesediaan untuk membayar harga atau pengorbanan atasnya.

About Wellcome to iqbalsukses

Terlahir ke dunia yang fana pada hari selasa,,tepatnya pada saat sang fajar menyingsing.. Tumbuh dalam keluarga yang sederhana dan religius.. Sekarang menempuh hidup, mencoba menjadi sosok pribadi yang berguna bagi orang lain, terutama orang tua.. Salam Kemenangan.. Pencari kebahagiaan dunia & akhirat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s