Renegosiasikan lagi Komitmen Anda

Pada dasarnya, manajemen waktu (atau manajemen aktivitas lebih tepatnya) didasarkan pada pengaturan akan komitmen yang kita ambil. Maka kemudian kuncinya adalah untuk berhati-hati dengan apa-apa yang ingin Anda lakukan, dan tidak melakukan lebih dari yang Anda sebenernya bisa. Baik, cara pandang keluar dari zona nyaman dan merenggangkan kompetensi diri memang bagus. Tapi ingat, bila Anda terus mengambil sekian banyak komitmen atau urusan, pada akhirnya Anda akan terjebak pada perihal yang mustahil, hingga kemudian Anda pun jadi ambruk dan kepayahan.

Meskipun Anda adalah orang yang ambisius, maka sadarilah bahwa ambisi Anda sebenarnya lebih pas untuk digunakan menuntaskan urusan, bukan untuk mengambil atau menerima urusan sebanyak mungkin. Agar bisa hidup dengan produktif, kita perlu membuat beberapa penyesuaian pada komitmen yang kita buat.

Anda mungkin bisa melakukan banyak hal, tapi tidak semua hal. Bagaimanapun, hidup kita mengenal adanya prioritas. Ada hal2 yang harus diberi perhatian lebih dari yang lain, dan ada juga hal2 yang benar harus ditinggalkan atau tak perlu diurusi sama sekali. Pada akhirnya -cepat atau lambat- akan sadari betapa kita butuh berikan ruang untuk urusan2 yang tak kalah penting dalam hidup kita, misal keluarga dan kontribusi. Bila kemudian kita memaksakan diri, pada akhirnya pasti akan kelabakan dan ambruk.

Frustasi sebenarnya tidaklah dipicu oleh apa2 yang tidak bisa kita lakukan, namun pada bagaimana perasaan kita pada saat menjalani apa2 yang sudah kita komitmenkan untuk tangani. Sehingga bila sejak awal kita sudah berkomitmen untuk melakukannya tapi kemudian luput tak terlaksana, itulah yang lantas membuat kita merasa kacau di dalam. Inilah yang kemudian merusak rasa hormat pada diri sendiri, rasa percaya diri dan juga melemahkan kapasitas pengambilan risiko kita. Singkat kata, ambruk lah kita.

Saya mengalami betul perasaan ini sewaktu sekolah dulu; di mana saya mengambil terlalu banyak amanah kesiswaan dalam posisi kunci, sehingga akhirnya tak ada satu pun yang bisa terurusi dengan ‘sempurna’. Implikasi buruknya pada urusan perkuliahan, kesehatan diri dalam beragam aspeknya, dan tugas2 yang jadi lambat tertangani atau bahkan belum rampung sama sekali. Rasa bersalah muncul ketika sejak awal saya gagal dalam merampungkan urusan2 yang saya terima karena saya tak mampu berkata “tidak” dan berusaha menyenangkan semua pihak.

Oleh karenanya, renegosiasikanlah komitmen Anda. Anda tak harus mengambil semua urusan yang ada.

About Wellcome to iqbalsukses

Terlahir ke dunia yang fana pada hari selasa,,tepatnya pada saat sang fajar menyingsing.. Tumbuh dalam keluarga yang sederhana dan religius.. Sekarang menempuh hidup, mencoba menjadi sosok pribadi yang berguna bagi orang lain, terutama orang tua.. Salam Kemenangan.. Pencari kebahagiaan dunia & akhirat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s