Seperti yg telah disebut pada tulisan sebelumnya, keyakinan adalah perasaan yg mengandung kepastian akan suatu hal.
Nah, keyakinan kita bisa ini dibentuk oleh tiga hal yg berperan sebagai referensi:

  1. Pengalaman pendukung; entah kejadian tertentu atau perkataan orang
  2. Afirmasi pribadi; apa2 yg kita katakan dg lantang pada diri sendiri
  3. Imajinasi; karena otak kita tidak bisa membedakan antara realita dan imajinasi.

Yang mana semua itu harus dilakukan dengan sering (repetitif) dan menimbulkan kesan mendalam secara emosi.

Untuk pemetaforaan, kita bayangkan saja keyakinan itu adalah sebuah meja dengan kaki sebagai referensi. Untuk membentuk keyakinan yg kuat, artinya kaki mejanya harus banyak dan juga masing2nya harus kokoh.

meja keyakinan cara pandang sukses

Kita contohkan saja seorang mahasiswa bermaksud untuk membentuk keyakinan bahwa dirinya bisa menjadi mahasiswa berprestasi (mawapres). Untuk membentuk keyakinan ini, maka dia membutuhkan yang pertama afirmasi dari dirinya sendiri; dengan semisal mengatakan di setiap pagi dan menjelang tidur di depan cermin, “Mirna, kamu tu pantes jadi mawapres. Kamu rajin, pintar dan mustinya bisa jadi mawapres”. Tidak hanya itu, yang kedua dia juga membayangkan dirinya sudah menjadi mawapres dan juga melakukan dg lancar apa2 yg dibutuhkan untuk menjadi mawapres. Gambaran itu tidak berupa gambar diam, melainkan berupa film penuh warna, suara dan rasa. Baik afirmasi maupun imajinasi yg dilakukannya itu dia olah sedemikian rupa sehingga itu semua bisa berkesan secara emosi. Misal untuk afirmasi: dalam hal isi pesan, pilihan kata, termasuk pada bagaimana dia mengatakan.

Itu artinya dia sudah punya minimal dua kaki meja pendukung. Tiap afirmasi adalah satu kaki meja. Demikian juga, tiap imajinasi adalah satu kaki meja. Sehingga ragam dan kuantitas afirmasi serta imajinasi amatlah penting di sini.

Dan akan lebih kuat lagi bila si Mirna mendapatkan kaki mejanya dari orang lain. Yakni ketika orang tuanya mengatakan, “Mirna, kamu ini kan anak Mama yg pinter. Kamu ini pasti bisa deh jadi mawapres”, atau temannya berkata, “Mirna, kamu nggak ikut mawapres ta. Kamu la’ pinter se. Kamu pasti bisa” atau ada teman jauhnya yg berkata, “Lho, kamu ini bukan mawapres to. Ealah. Ta’kirain kamu ini mawapres. Habis kamu pinter banget sih, dan emg pantes klo jadi mawapres.”

Semua itu membentuk kaki meja, dan semua itu membuat keyakinan si Mirna menjadi kokoh.

Nah, terkait kekokohan keyakinan ini, maka sebenarnya ada tiga tingkat (kepastian + intensitas emosi) akan sesuatu:

  1. Anggapan. Yakni ketika Mirna masih sekedar berceletuk dalam dirinya, “Karena aku ini rajin dan udah sering punya prestasi, mungkin aku ini bisa ya jadi mawapres”. Memang sudah mencenderungkan pada sesuatu, tapi karena kaki mejanya belum cukup kuat, sehingga dia masih bisa dg mudah digoyahkan.
  2. Keyakinan. Yakni ketika Mirna sudah memiliki referensi yg dibangun atas intensitas emosi yg kuat. Misal dukungan orang tuanya ternyata amat membekas dalam dirinya; jarang2 dia dipuji dan didukung, semisal.
  3. Pendirian. Yakni ketika Mirna sudah memiliki sekian banyak kaki meja yg semuanya membentuk intensitas emosi yg amat sangat dalam dirinya. Kita bahkan bisa menyejajarkan tingkatan ‘Pendirian’ ini dg ‘Fanatisme’; amat sangat susah untuk menggoyangnya.

Nah, masalahnya, seringkali keyakinan ini terbentuk dengan sendirinya tanpa kita sadari. Semisal dulu pernah waktu SMP pernah punya pengalaman ndak sukses berat ketika ngomong di depan kelas. Itu melahirkan anggapan, “Aku ini emg ndak jago ngomong di depan orang banyak”. Ketika umur bertambah, tidak ada pengalaman yg menggoyang anggapan itu, malah kemudian tambah diperparah; waktu kuliah pernah juga tampil buruk dan memalukan di depan umum. Karena intensitas emosi yg dalam pada waktu mengalami, yg awalnya anggapan, lantas jadi keyakinan. Apalagi kaki-kaki dari meja keyakinan kontraproduktif juga belum dirobohkan.

Sehingga sebelum kita mengupayakan bagaimana cara membuat diri jadi lebih pede, maka yg perlu dilakukan sebelumnya adl membuat diri tidak terjerumus atau disabotase oleh karena keyakinan kontra-produktif. Karena tidaklah mungkin kita bisa mencapai sesuatu jika kita masih berkonflik dg diri sendiri.

Semisal Anda punya target untuk jadi orang kaya yg punya mobil Ferrari.

Tidaklah mungkin Anda bisa mencapainya ketika Anda masih punya keyakinan (atau anggapan yg dibiarkan):

  • Bahwa jadi orang kaya dan punya Ferrari itu lebih dekat dg kesombongan.
  • Bahwa untuk jadi orang kaya dan punya Ferrari itu akan membuat Anda lebih dekat dg kriminal seperti kecurangan dan kejahatan. Mungkin gara2 Anda melihat terlalu banyak berita di koran dan televisi ttg orang2 kaya yg masuk penjara. Pun juga ketika Anda melihat bagaimana teman2 Anda berbisnis. Sampai2 Anda berkeyakinan bahwa ndak mungkin orang jadi kaya kecuali dia pernah berbuat curang.
  • Bahwa jadi orang kaya tu hisabnya di akhirat lama, dan berpotensi lebih besar untuk masuk neraka.
  • Bahwa Anda tidak cukup pantas sebenarnya jadi orang kaya.

Dengan keyakinan kontra-produktif seperti itu, maka fenomena The Law of Attraction dan sunnatullah-Nya Tuhan bagi orang2 yg mencari sukses pasti tak akan hadir dg lancar.

Atas pencapaian yg Anda inginkan, jangan lupa untuk membentuk minimal tiga keyakinan mendasar berikut:

  • It’s POSSIBLE to achieve them; bahwa target Anda itu memang bisa diraih.

Bahwa jadi mawapres itu mungkin, bahwa kuliah sambil kerja itu mungkin, bahwa dapet penghasilan 7 juta per bulan pasca lulus itu mungkin. Meskipun tentu saja “common sense” tetap berlaku. Dalam hal ini saya ndak sepakat dg apa kata Rhonda Brynes; bahwa the Universe tidak membedakan apakah Anda mau mendapatkan satu dollar atau sejuta dollar. Itu akan sama2 mudahnya dan sama2 cepatnya. Tidak, masih ada tabiat sunnatullah yg kita ikuti.

  • That YOU DESERVE to achieve them; bahwa Anda ini memang pantas untuk meraihnya.

Bahwa Anda ini pantas kok jadi orang sholeh, bahwa Anda ini pantas kok jadi orang kaya.

  • InsyaAllah, you ARE ABLE to achieve them; bahwa Anda ini MAMPU dan BISA meraihnya. Semua dg perkenan Tuhan.

Ingat, bahwa ketika kita meyakini sesuatu; bahwa kita bisa khatam Al Qur’an semisal, maka kita tidak harus sudah menemukan bagaimana caranya. Itu sudah jadi urusan yg berbeda. Pengetahuan kita tentang bagaimana cara meraih sesuatu bukanlah merupakan syarat untuk membentuk keyakinan bahwa kita BISA meraih sesuatu itu.

Dan akhirnya, berhati-hati dengan istilah InsyaALLAH. Jika Anda menganggap bahwa yg namanya insyaAllah itu adalah “kemungkinan, bisa jadi, kayak2nya atau semacamnya”, maka Anda tidak akan bisa membentuk keyakinan sukses. Gara2 sering menggunakan InsyaAllah dalam konteks yg kurang tepat.

“Gimana, nanti bisa dateng rapat kan?”
“InsyaAllah”

“Gimana, besok kerjaannya bisa rampung, ngga?”
“InsyaAllah”

Makna InsyaAllah harus diletakkan pada maksud yg sesungguhnya. Bahwa itu merupakan kepastian atau keyakinan, namun kita sadar, bahwa segala yg pasti hanya bisa ada dengan perkenan Tuhan Yang Maha Berkuasa.

About Wellcome to iqbalsukses

Terlahir ke dunia yang fana pada hari selasa,,tepatnya pada saat sang fajar menyingsing.. Tumbuh dalam keluarga yang sederhana dan religius.. Sekarang menempuh hidup, mencoba menjadi sosok pribadi yang berguna bagi orang lain, terutama orang tua.. Salam Kemenangan.. Pencari kebahagiaan dunia & akhirat

2 responses »

  1. ageng mengatakan:

    Thanks banget nih tipsnya, akan saya praktekan dalam kehidupan sehari-hari (semoga)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s